DWI CAHYA ASHARI


Berpacu menjadi yang terbaik

[makalah] Self Determination, Otentisitas dan Kebebasan

MAKALAH PSIKOLOGI HUMANISTIK

SELF DETERMINATION, OTENTISITAS, DAN KEBEBASAN

Dikerjakan Untuk Memenuhi Tugas Psikologi Humanistik

 

Disusun oleh :

Anna Wahidah (110911004)

Dwi Cahya Ashari (111111129)

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

 

 

 

 

SELF DETERMINATION

Self-determination merupakan salah satu konsep yang berkaitan dengan motivasi dan kepribadian manusia. Seseorang dikatakan telah memiliki self-determination ketika seseorang tersebut lebih dipengaruhi oleh motivasi dari dalam dirinya sendiri (intrinsic motivation) daripada motivasi dari lingkungan eksternal (external motivation). Intrinsic motivation sendiri merujuk pada keadaan dimana seseorang memulai suatu aktivitas untuk dirinya sendiri karena merasa aktivitas tersebut menarik dan dapat mencapai kepuasan dengan melakukan aktivitas tersebut. Pada beberapa kasus, intrinsic motivation tidak sepenuhnya bersumber dari dalam diri sendiri. Intrinsic motivation dapat berupa external motivation yang telah terinternalisasi pada individu dimana value yang berasal dari lingkungan eksternal tersebut telah berasimilasi dengan value yang semula dipercaya oleh individu tersebut. Edward L. Deci dan Richard M. Ryan, yang sebelumnya melakukan penelitian pada motivasi intrinsik dan ekstrinsik dalam diri individu, kemudian mengembangkan konsep motovasi tersebut dan menyatakan tiga kebutuhan psikologis dasar yang mempengaruhi motivasi tersebut. Ketiga kebutuhan psikologis dasar yang dapat mempengaruhi self determination tersebut merupakan: 1. Kompetensi (competence) : kebutuhan untuk dapat mengontrol outcome dan keinginan untuk menguasai skill tertentu. 2. Keterkaitan (relatedness) : merupakan kebutuhan yang dimiliki oleh hampir semua orang dimana manusia mempunyai keinginan untuk berinteraksi, berhubungan dan peduli satu sama lain. 3. Autonomy : kebutuhan untuk menjadi ‘alasan hidup’ untuk dirinya sendiri serta berintegrasi dengan dirinya sendiri meskipun tidak berarti bahwa manusia tersebut dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Keberadaan dari ketiga kebutuhan dasar psikologis ini sendiri berbeda-beda pada setiap individu. Seseorang boleh jadi mempunyai kebutuhan akan kompetensi yang lebih menonjol namun seseorang yang lain memiliki kebutuhan akan otonomi yang lebih menonjol. Hal ini dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial, budaya, usia dan perkembangan zaman. Disamping itu, Deci dan Vansteenkiste menyatakan bahwa terdapat tiga elemen utama pada self-determinisme, yaitu: 1. Humans are inherently proactive with their potential and mastering their inner forces (such as drives and emotions) 2. Humans have inherent tendency toward growth development and integrated functioning 3. Optimal development and actions are inherent in humans but they don’t happen automatically Untuk mewujudkan ketiga potensi tersebut, individu membutuhkan nurture dari lingkungan sosialnya. Ketika individu sudah berhasil mengaktualisasikan potensinya tersebut maka individu tersebut akan memperoleh konsekuensi berupa perkrmbangan dan well-being, namun apabila ketiga kebutuhan dasar tidak terpenuhi maka pengaktualisasian tersebut tidak akan berhasil.

 

OTENTISITAS Otentisitas merupakan kondisi dimana manusia bertindak sesuai dengan karakteristik dan kepribadian aslinya tanpa dipengaruhi oleh lingkungan eksternal. Otentisitas merupakan wujud dari kesadaran manusia akan eksistensi dirinya, sehingga manusia tersebut menyadari bahwa dia bebas menentukan segala hal sesuai dengan yang diinginkannya tanpa pengaruh dari lingkungan luar individu tersebut. Otentisitas ini mencakup pertanyaan-pertanyaan seperti “bagaimana kita memandang diri kita?”, ”apa yang kita miliki”, atau bahkan “apakah kita sebenarnya?”. Otentisitas sendiri berasal dari asumsi bahwa di dalam diri individu terdapat ciri-ciri khas yang membedakannya dengan individu lain, oleh karena itu setiap individu dianggap unik. Sartre, mendefinisikan otentisitas sebagai bentuk dari hubungan individu secara personal dengan lingkungan, sehingga otentisitas tidak dapat diperoleh hanya dengan mengulangi hal-hal yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Definisi menurut Sartre ini berkaitan dengan aspek kreativitas dalam diri individu. Menurut Kiekergaard, “Authenticity is reliant on an individual finding authentic faith and becoming true to oneself.” Kiekergaard juga menganggap bahwa media masa pada masa sekarang ini menghambat individu untuk mencapai otentisitas. Dia menyatakan bahwa media masa tidak membuat individu untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya, namun sebaliknya, membentuk pengetahuan individu dengan opini-opini yang disampaikan dalam media. Menurut Kiekergaard, untuk mencapai otentisitas, individu harus berani menghadapi realitas dan membentuk opininya sendiri mengenai realitas tersebut. Dari berbagai definisi mengenai arti otentisitas itu sendiri dapat disimpulkan bahwa karakteristik individu yang dianggap telah mencapai level otentisitas adalah individu yang aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, serta berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang telah diperolehnya. Sedangkan untuk memperoleh suatu keotentikan tersebut salah satu yang dapat kita lakukan adalah dengan meminimalisir pengaruh dari luar dan memaksimalkan konstruksi pengetahuan (keinginan, harapan, dsb) yang berasal dari diri sendiri lalu mewujudkannya dalam bentuk perilaku.

 

KEBEBASAN

Santre berpendapat bahwa kebebasan merupakan simbol kondisi manusia yang mengalami dirinya sebagai makhluk bebas. Tapi juga merupakan pertanggung jawaban mutlak dalam diri seseorang secara menyeluruh. Berkaitan tentang pengalaman kebebasan adalah pengalaman tentang kesadaran diri sendiri (Abidin, 2009). Psikolog humanistik seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow percaya pada kehendak bebas. Mereka berpendapat bahwa orang memiliki pilihan dalam perilaku mereka, dan mereka menyangkal bahwa perilaku seseorang adalah dipengaruhi faktor kekuatan dari luar diri mereka saja. Kebanyakan orang merasa bahwa mereka memiliki kebebasan, dalam arti bahwa mereka dapat bebas memilih dari sejumlah pilihan. Kebanyakan orang juga memiliki perasaan tanggung jawab pribadi, mungkin karena mereka merasa bahwa mereka setidaknya sebagian kontrol perilaku mereka sendiri.

 

CINTA

Cinta merupakan salah satu kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi yang harus dipenuhi oleh individu menurut Abraham Maslow. Keinginan untuk persahabatan, mencari pasangan dan keinginan untuk menjadi bagian dari sebuah keluarga adalah pencerminan dari kebutuhan ini. Kekurangan dalam tingkat ini yang disebabkan karena kelalaian, penghindaran, atau pengucilan, dsb, dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk membentuk dan mempertahankan hubungan emosional yang signifikan pada umumnya, seperti: persahabatan, keintiman, keluarga. Menurut Maslow, manusia perlu merasakan rasa memiliki dan penerimaan di antara kelompok-kelompok sosial mereka, tidak peduli apakah kelompok-kelompok besar atau kecil. Sebagai contoh, beberapa kelompok sosial yang besar mungkin termasuk klub, rekan kerja, kelompok-kelompok keagamaan, organisasi profesi, tim olahraga, dan geng. Beberapa contoh hubungan sosial kecil termasuk anggota keluarga, mitra intim, mentor, rekan, dan kepercayaan. Manusia perlu mencintai dan dicintai, baik secara seksual dan non-seksual oleh orang lain. Banyak orang menjadi rentan terhadap kesepian, kecemasan sosial, dan depresi klinis dalam ketiadaan cinta. Fromm mengatakan bahwa dorongan yang paling kuat dari diri manusia adalah dorongan untuk bersatu antar pribadi. Cinta diartikan sebagai kesatuan antar orang dengan tetap mempertahankan integritas dan individualitas masing-masing. Cinta merupakan kekuatan yang aktif dalam diri seseorang, yang disatu pihak melenyapkan perasaan isolasi, dan terpencil. Tetapi di lain pihak juga tetap mempertahankan kepribadian masing-masing orang. Unsur-unsur dasar yang selalu ada pada semua bentuk cinta adalah; perhatian, tanggung jawab, hormat dan pemahaman.

 

MANUSIA TERALIENANSI

Kita dapat terasing dari masyarakat, dari satu sama lain, atau dari diri kita sendiri. Kepribadian terasing kehilangan sebagian besar harga dirinya, karena hal ini berasal dari kesadaran diri dari yang mengalami sendiri sebagai subyek pengalaman, pikiran, emosi, keputusan, dan tindakan mereka. Kita sepenuhnya dapat memahami sifat keterasingan hanya dengan mempertimbangkan rutinisasi kehidupan modern dan penekanan kesadaran kita dari masalah dasar dari eksistensi manusia. Kita dapat memenuhi diri hanya jika kita tetap berhubungan dengan fakta-fakta dasar dari eksistensi, dari cinta dan solidaritas untuk kesendirian dan karakter fragmentaris kehidupan kita. Fromm mengartikan alienansi dalam arti folosofis, yakni alienansi diri dari dirinya sendiri, orang lain, serta dunia, melalui tindakan sendiri. Dalam diri manusia yang teralienansi terjadi reifikasi yaitu penghayatan atas diri sendiri, dan orang lain sebagaimana penghayatan atas benda-benda. Fromm merumuskan alienansi sebagai suatu cara berada, dimana manusia menghayati dirinya sebagai sesuatu yang asing, manusia telah menjadi terasing dari dirinya sendiri, sebaliknya tindakannya atau akibat dari padanya telah menjadi tuannya yang ia patuhi, atau bahkan disembahnya. Orang yang teralienansi adalah orang yang terpisah dari dirinya sendiri dan orang lain. Ia seperti halnya orang lain menghayati diri seperti layaknya menghayati benda, pengertiannya ada, akal sehatnya ada, tetapi bersamaan dengan itu, dia tidak berhubungan dengan diri sendiri dan dunia luar secara produktif. Fromm berpendapat bahwa alienansi tidak terbatas pada psikologi individual. Alienansi bukanlah sebuah konsep psikopatologi belaka, alienansi dapat terjadi secara sosial, menyangkut struksur sosial ekonomi yang tidak sehat.

 

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (ERICK FROMM)

Dilema manusia tidak bisa diselesaikan dengan memuaskan kebutuhan hewani kita. Hal ini hanya bisa diatasi dengan memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia yang unik, suatu pemenuhan yang menggerakkan kita menuju sebuah penyatuan kembali dengan alam. Fromm mengidentifikasi lima dari kebutuhan khas manusia atau kebutuhan eksistensial: 1. Keterkaitan (Relatedness) Pertama adalah keterkaitan, yang dapat mengambil bentuk dari (1) penyerahan, (2) kekuasaan, atau (3) cinta. Cinta, atau kemampuan untuk bersatu dengan yang lain sementara individualitas dan integritas dipertahankan, hanya kebutuhan keterkaitan lah yang dapat memecahkan dilemma dasar manusia. 2. Transendensi (Transcendence) Dilemparkan ke dunia tanpa persetujuan mereka, manusia harus men- transendensikan sifat mereka dengan merusak atau untuk menciptakan orang atau benda. Manusia dapat merusak melalui agresi ganas, atau membunuh untuk alasan lain selain untuk bertahan hidup, tetapi mereka juga dapat menciptakan dan peduli terhadap hasil kreasi mereka. 3. Keberakaran (Rootedness) Keberakaran adalah kebutuhan untuk membentuk akar dan merasa kembali lagi di dunia. Secara produktif, keberakaran memungkinkan kita untuk berkembang mengatasi keamanan dari ibu kita dan membangun hubungan dengan dunia luar. Dengan strategi non produktif, kita menjadi terpaku dan takut untuk bergerak di luar keamanan dan keselamatan ibu kita atau penggantikan ibu. 4. Rasa Identitas (Sense of Identity) Kebutuhan manusia yang keempat adalah untuk sebuah rasa identitas, atau kesadaran diri sebagai orang yang terpisah. Dorongan untuk rasa identitas dinyatakan secara non produktif sebagai kesesuaian dengan kelompok dan secara produktif sebagai individualitas. 5. Kerangka Orientasi (Frame of Orientation) Dengan kerangka orientasi, Fromm mengartikan peta jalan atau filosofi yang konsisten yang dengan itu kita menemukan jalan kita melalui dunia. Kebutuhan ini dinyatakan secara non produktif sebagai upaya untuk tujuan yang tidak rasional dan secara produktif sebagai gerakan yang menuju pada tujuan rasional.  

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://en.wikipedia.org/wiki/Self-determination_theory

http://en.wikipedia.org/wiki/Authenticity_%28philosophy%29

http://www.theglaringfacts.com/psychology/erich-fromm-humanistic-psychoanalysis/

http://homepages.rpi.edu/~verwyc/MASLOWOH.htm.

http://en.wikipedia.org/wiki/Maslow's_hierarchy_of_needs

http://www.e-jurnal.com/cinta-dan-benci-menurut-pandangan-psikologi/

Widodo, Martinus Satya, Didik Adi Sukmoko. 2005. Cinta & Keterasingan: Dalam Masyarakat. Narasi.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :